PLTU Muara Karangimg courtesy of BambangHermanto

by Aubrey Belford

Mon Apr 14, 12:24 PM ET

JAKARTA (AFP) -Separated by a road and a viscous finger of black, garbage-choked water, the stilt-house slum of Muara Baru and the BMW car dealership that faces it appear as if from different worlds.

But on December 6, 2025, these two extremes of the Indonesian capital will have something in common as a World Bank study shows that unless action is taken, they and much of the coastal city of 12 million will be submerged by seawater.

Experts have pinpointed that date as the next peak of an 18.6-year astronomical cycle, when sea levels will rise enough to engulf much of Indonesia’s low-lying capital.

Climate change is causing sea levels to rise, but the study’s authors say the main problem is that Jakarta is sinking under the weight of out-of-control development.

“The major reason for this is not climate change or whatever, but just the sinking of Jakarta,” says Jan Jaap Brinkman, an engineer with Dutch consultancy Delft Hydraulics who worked with the World Bank on the study.

“We can exactly predict to what extent the sea will come into Jakarta

” By 2025, estimates from the Intergovernmental Panel on Climate Change show, sea levels will have risen by only about five centimetres (two inches).

But Brinkman says Jakarta, which spans a flat plain between mountains and coast, will be between 40 and 60 centimetres lower than it is now.

The study shows that without better defences, in 2025 the sea will reach the presidential palace around five kilometres (three miles) inland as well as completely inundating Jakarta’s historic old city to the north.

December 6 will be the highest point of the tidal cycle, but Brinkman warns there are likely to be plenty of floods before then.

Brinkman blames the swelling city’s over-development, which is compressing the land it is built on.

The problem has been exacerbated by factories, hotels and wealthy residents drilling deep water bores to bypass the city’s shambolic water grid, sucking out the groundwater and causing further subsidence.

The World Bank has called for a halt to deep groundwater extraction, and the city administration has raised the price of groundwater but so far there has been little progress.

“If you do nothing about the groundwater problem, parts of Jakarta will sink five metres (by 2025),” Brinkman says.

A glimpse of the future can be seen in the shacks of Muara Baru, where the city’s north meets the sea, and where flood levels late last year reached up to two metres.

The few trees that shaded this fishing slum were underwater for so long they are now dead and bare.

Muara Baru is bordered by just the kind of high-rise towers, luxury homes and mega-malls that are pushing the area into the sea.

There is little water to drink in the slum itself — around 40 percent of Jakarta’s population is not connected to the water grid, said Achmad Lanti, the city’s water regulator.

Jakarta’s water was privatised in 1997 in the hope of improving services. But Lanti said the two foreign operators brought in to run it had failed to live up to pledges to bring water to 75 percent of the population by 2007.

The shortage leaves many Jakartans with limited options: buy the water at a marked-up price, dig for it, or steal it.

Around half of the water from Jakarta’s pipes disappears through a combination of leaks and theft, Lanti said.

“Sometimes (those who steal) are only individuals, sometimes they form a kind of organised crime, what I call a water mafia,” he said.

In Muara Baru, Sayong, a 65-year-old grandmother, and Aris, who says he is in his 70s, skid down hill holding a push-cart filled with jugs of fresh water.

Each day Sayong fills three carts full of water from a pump and sells it on to other residents. After using the water she needs and selling the rest, Sayong, who lives with two adult children and two grandchildren, said she earns a maximum of 20,000 rupiah (2.20 dollars) a day.

Her tiny income means she has no option but to stay in Muara Baru, where the floods are a constant threat.

“It’s serious, I can’t sleep because I’m always afraid that there will be flooding from the sea,” she says.

The waste-filled canal that runs up to the slum’s edge shows the effect of the city’s chaotic development.

Massive buildings have taken over natural drainage sites, while human waste and rubbish clog waterways, causing freshwater floods that surge up from the ground during the rainy season.

The drainage system built by the Dutch who once ruled Jakarta is unable to cope with the city’s rapid growth, said Hongjoo Hahm, the top infrastructure specialist at the World Bank in Indonesia.

“Every year we get floods,” he says. “The scale of the floods (the Dutch) were talking about every 25 years are happening every year.”

Iklan

tadi siang gw sebel banget.. gw berangkat ngantor lewat jembatan semanggi menuju pancoran dengan motor butut gw… pas di jembatan semanggi, tiba2 ban gw bocor,… gw mencak2 dalem hati, hhh… dasar motor butut, pake kempes segala… eh… begitu liat kanan kiri.. ternyata bukan gw doank yg ban-nya kempes, ternyata banyak para pengendara motor pada menepi gara2 ban-nya bocor.. ada kali kira2 10 pengendara motor nepi.. begitu gw cek en ricek, eh ga taunya ada paku nyantol di ban motor gw….

hmm.. saat itu gw berasumsi, pasti ada yg nebar paku di jalanan… soalnya paku yg nyangkut di ban gw masih kinclong alias masih baru…, begitupun dengan para korban  yg lainnya… alhasil, mau ga mau.. gw dorong motor gw menuju tambal ban terdekat sambil mencak-mencak dalem hati… setelah dorong motor sepanjang jalur gatot subroto, akhirnya gw nyampe jg di tempat tambal ban, ga terlalu jauh dari Planet Hollywood… disini gw menemukan pemandangan yg cukup langka.. ternyata di tempat tambal ban ini, udah banyak banget yg ngantri gara2 ban-nya bocor. saat gw nyampe, g ada di urutan ke-6… itupun di belakang gw masih ada lagi yg ngantri…. dan ditambah lagi di daerah situ ada 3 tempat tambal ban.. dan saat itu semua tempat penuh.. sekitar ada 4-6 motor ngantri di setiap tempat tambal..  alhasil mau ga mau, gw harus nunggu antrian….

selama lebih dari 1 jam gw nunggu akhirnya motor gw diurusin juga.. seperti yg udah gw duga, ban gw pasti sobek, dan akhirnya menuntut gw buat ganti yg baru. begitu gw tanya harganya berapa, si penjual menaikkan harga seenak udel dia.. ban dalem yg biasanya gw beli seharga Rp. 25.000,- dinaikin jadi Rp. 35.000,- en ga mau ditawar sama sekali. gw cuman bisa gigit jari… untung aja gw bawa duit cash..

ngeliat gelagat seperti ini, gw yakin pasti tindakan ini dilakukan oleh para tukang tambel ban di sekitar sana untuk meningkatkan omset mereka. mereka pake cara curang buat dapetin keuntungan dan merugikan orang. gw bener-bener sebel…. memang gw ga punya bukti untuk ngejudge bahwa ini adalah satu kasus yang disengaja, tapi insting detektif gw mengatakan bahwa merekalah pelakunya…. 😦

saat ini gw ga bisa berbuat apa2, tapi mudah2an ada orang yg lebih kritis dari gw yg mau memproses ini hingga ke kepolisian, supaya hal serupa ga banyak terjadi… gw coba ngebayangin gimana rasanya udah ban bocor, dorong lumayan jauh, trus ga punya duit buat tambal atau ganti ban.. kan repot… kasihan kalo ada yg ngalamin itu….

situasi seperti ini ternyata sudah banyak terjadi di ibukota. karena gw penasaran.. gw coba tanya om google dengan keyword “ranjau paku”…  hasilnya… ternyata banyak sekali artikel-artikel yg menyangkut kasus ini.. salah satunya di kompas.

menurut kompas ada sekitar 5 kg ranjau paku ditemukan di jalan2 sekitar Jakarta per-harinya.. huff… makin meresahkan aja nih…  mudah2an polda metro jaya bisa segera menelusuri kasus ini dan menindak orang-orang culas yg bertanggungjawab di balik kasus ini…

nah buat kawan yg berdomisili di Jakarta, kiranya lebih berhati-hati dan semoga terhindar dari ranjau paku ini…

waduh… Jakarta masuk daftar kota yang terancam pemanasan global nih..
barusan baca beritanya di tempo interaktif.com .
gw copy artikelnya biar bisa dibaca rame-rame. -FS-

——————————————————–

Jakarta Terancam Pemanasan Global
Rabu, 28 Maret 2007 | 09:18 WIB
TEMPO, LONDON

Lebih dari dua per tiga kota-kota besar di dunia akan terkena dampak pemanasan global. Salah satunya adalah Jakarta. Inilah hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Environment and Urbanization hari ini.

Jakarta adalah satu dari 180 kota di dunia yang 70 persen wilayahnya berada di kawasan pantai berelevasi rendah yang terancam oleh naiknya permukaan laut akibat pemanasan global itu. Kota lainnya antara lain Tokyo, New York, Mumbai di India, Shanghai, dan Dhaka.

Penelitian itu memang tak menyebutkan kapan permukaan laut akan naik atau membanjiri kota-kota pantai tersebut. Namun disebutkan bahwa solusi untuk memecahkan persoalan itu amatlah mahal karena harus merelokasi banyak orang dan menciptakan struktur bangunan yang bisa melindungi diri dari bencana.

“Migrasi dari zona yang berbahaya itu sangat diperlukan namun menyita biaya dan sulit dilakukan, jadi permukiman di kawasan pantai sebaiknya dimodifikasi untuk melindungi penduduknya,” kata Gordon McGranahan dari International Institut Lingkungan dan Pembangunan Internasional di London. Dia adalah penulis hasil penelitian tersebut.

Sebelumnya Panel Antarpemerintahan untuk Perubahan Iklim telah menyebutkan bahwa kawasan pantai akan terkena dampak paling buruk dari pemanasan global. Laporan mereka menyebutkan pada 2080 lebih dari 100 juta manusia akan terkena bencana banjir tiap tahun.

Bahkan pada 2090 mereka meramalkan terjadinya air bah raksasa di Amerika Utara. “Bisa berulang tiga sampai empat tahun sekali,” demikian laporan itu.

Pada Februari Panel itu telah memperingatkan bahwa permukaan air laut meningkat tujuh -23 inci di akhir abad yang lalu dan mengancam kawasan pantai dan menimbulkan badai dan angin topan. Asia adalah kawasan paling berbahaya. Lima negara yang terancam adalah Cina, India, Bangladesh, Vietnam, dan Indonesia.

AP | AFP | DEDDY SINAGA

——————————————————–

Perlu diingat.. bahwa semua kemungkinan ini bisa terjadi adalah karena ulah manusia. ekspoitasi alam untuk kebutuhan industri telah memberikan dampak yang luar biasa negatif bagi keselamatan bumi ini. jadi wahai kawan sekalian, marilah kita lebih menjaga bumi tempat kita berpijak ini.. tidakkah kita mendengar tangisan ibu pertiwi.. tanah, air, dan udara yang kita nikmati sehari-hari dirusak dan dikotori oleh ulah tangan manusia. tidakkah kita merasa bahwa alam sudah murka terhadap kita? ingatlah kawan, setinggi-tingginya kita, tetaplah kita hanyalah seorang manusia. kita hanyalah makhluk yang sangat kecil dibandingkan alam semesta yang luas ini. Dari kecil gue diajarin bahwa Tuhan menjadikan alam ini lebih dahulu daripada manusia. Kalo dari silsilah, manusia adalah anak paling bontot yang dihidupin sama Tuhan, bahkan hewan-hewan aja dihidupin duluan. Kiranya kita sebagai anak bontot lebih banyak menghormati dan menyayangi yang lebih tua.
mungkin bumi ini sudah tidak mungkin dikembalikan seperti semula, dengan mengetahui fakta ini gw cuman bisa berharap semoga manusia cepat mengerti dan memahami jeritan alam ini.
Pesan yang pengen gw sampaikan… marilah kita jaga kelestarian alam kita ini, sayangi semua makhluk yang hidup dan bernyawa… gw mungkin ga punya kapasitas yang besar untuk menyampaikan hal ini kepada semua manusia… gw bukan presiden, bukan penguasa, mentri lingkungan hidup,.. tapi gw pengen.. karena gw hanya manusia…,berita inipun menjadi tamparan buat gw sendiri…
STOP WAR…PEACE FOR THE EARTH -FS-