greenpeacelogger
A Greenpeace activist dressed as a logger chainsawed a 20-meter wooden wall symbolizing the Indonesian forests for a “happening art” symbolically depicting the alarming rate of Indonesian forest destruction during Greenpeace Indonesia’s launching of the Forest Defenders campaign on March 16; 2007 at Jakarta’s Independence Proclamation Monument. -courtesy of www.greenpeace.org

Indonesia dicatat dalam Buku Rekor Dunia Guinness Tahun 2008 sebagai penghancur hutan tercepat

Jakarta, Indonesia — Edisi mendatang dari Buku Rekor Dunia Guinness akan memasukkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kehancuran hutan tercepat di antara negara-negara yang memiliki 90 persen dari sisa hutan di dunia. Indonesia menghancurkan luas hutan yang setara dengan 300 lapangan sepakbola setiap jamnya. Sebanyak 72 persen dari hutan asli Indonesia telah musnah (1) dan setengah dari yang masih ada terancam keberadaannya oleh penebangan komersil, kebakaran hutan dan pembukaan hutan untuk kebun kelapa sawit (2).
Rekor Dunia Guinness yang dianggap sebagai otoritas global pemecahan rekor, telah memberikan konfirmasi pada Greenpeace bahwa rekor yang patut disayangkan ini akan muncul dalam buku rekor dunia tahun 2008 yang akan diluncurkan di bulan September tahun ini (3).

Pencantuman rekor dalam buku Guinness akan tercatat sebagai berikut: “Dari 44 negara yang secara kolektif memiliki 90% hutan di dunia, negara yang meraih tingkat laju deforestasi tahunan tercepat di dunia adalah Indonesia, dengan 1.8 juta hektar hutan dihancurkan per tahun antara tahun 2000 hingga 2005—sebuah tingkat kehancuran hutan sebesar 2% setiap tahunnya atau 51 km2 per hari” (4).

“Sangatlah menyedihkan dan tragis bahwa di antara negara-negara dengan tutupan hutan tersisa yang masih luas, Indonesia menjadi yang tercepat dalam kehancuran hutannya. Dalam waktu tiap 30 menit saja, kawasan hutan seluas Taman Monas di Jakarta telah dihancurkan. Menyandang gelar pada buku rekor ini adalah hal yang memalukan bagi Indonesia,” ungkap Hapsoro, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.

Greenpeace menyerukan kepada pemerintah Indonesia untuk menahan laju kehancuran hutan tersebut dengan melakukan pengentian penebangan sementara (moratorium) terhadap seluruh operasi penebangan hutan skala komersial di seluruh kawasan hutan alam di Indonesia. Organisasi ini juga menekankan bahwa moratorium merupakan langkah awal yang diperlukan untuk menghentikan laju deforestasi yang tak terkendali dan memberikan kesempatan kepada hutan untuk memulihkan dirinya. Moratorium juga harus digunakan untuk mengkaji ulang dan mengubah arah kebijakan terkait dengan hutan yang masih tersisa di Indonesia, yang selama ini hanya mendorong kepentingan-kepentingan yang mendukung terjadinya kehancuran dibandingkan perlindungan.

Sektor kehutanan di Indonesia telah dan masih dirusak oleh ketidakpastian hukum, korupsi dan penjarah hutan yang semuanya masih belum berhasil dikontrol oleh pemerintah Indonesia. Tingginya permintaan dunia internasional atas produk-produk kayu dan kertas, serta komoditas lain seperti minyak sawit, juga mendorong lajunya kehancuran hutan.

“Hanya Indonesia yang bisa melindungi hutannya dan penduduk yang hidupnya bergantung pada hutan, namun pemerintah negara-negara Uni Eropa, Cina, Jepang dan Amerika Utara juga harus menjamin bahwa negara mereka tidak lagi menjadi tempat pencucian gelap produk-produk hasil dari kehancuran hutan kita. Bila tidak, hal memalukan yang disandang Indonesia ini juga mejadi milik mereka,” tambah Hapsoro.

Rekor Indonesia sebagai penghancur hutan tercepat juga menyebabkan negara tersebut menjadi pencemar rumah kaca ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Cina. Hingga sebesar 25% dari emisi gas rumah kaca disebabkan oleh pembukaan lahan hutan. (5)
Pemecahan rekor dunia Indonesia ini diumumkan hampir bersamaan waktu dengan pertemuan tiga gubernur propinsi dengan komunitas internasional tentang kemungkinan upaya bersama dalam mencegah deforestasi dan mengurangi akibat perubahan iklim. Mengurangi dan menghindari deforestasi juga merupakan salah satu solusi yang dipertimbangkan dalam menghadapi perubahan iklim di pertemuan kerja ketiga Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang sedang berlangsung di Bangkok.

Greenpeace is adalah organisasi kampanye yang independen, yang menggunakan konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan untuk mengungkap masalah lingkungan hidup, dan mendorong solusi yang diperlukan untuk masa depan yang hijau dan damai.

Catatan Redaksi

(1) Roadmap to recovery, 2006, Greenpeace International (see: http://www.intactforests.org)

(2) World Resources Institute, 1997, The Last Frontier Forests.

(3) Dupiklat sertifikat dari Guinness World Records yang mengkonfirmasikan pemecahan rekor Indonesia tersedia bila diminta.

(4) Walau Indonesia menghancurkan hutannya lebih cepat dari negara lain, Brazil menghancurkan area yang lebih luas tiap tahunnya.

(5) Houghton, RA (2003) Revisi estimasi emisi karbon ke atmosfir yang dihasilkan oleh perubahan dan pengelolaan tanah 1850-2000. Tellus 55B: 378-90; Houghton, RA (2005a) Deforestasi hutan tropik sebagai sumber emisi rumah kaca.

Informasi visi, video, foto dan laporan

Hapsoro, Regional Forest Campaigner, Greenpeace Southeast Asia, +62 815 857 19872, hapsoro@dialb.greenpeace.org Patrisia Prakarsa, Media Campaigner, Greenpeace Southeast Asia – Indonesia, +62 815 1195 4771, patrisia.prakarsa@id.greenpeace.org Arie Rostika Utami, Assistant Media Campaigner, Greenpeace Southeast Asia – Indonesia +62 856 885 7275, arutami@id.greenpeace.org

Artikel original dari www.greenpeace.org

Iklan

PLTU Muara Karangimg courtesy of BambangHermanto

by Aubrey Belford

Mon Apr 14, 12:24 PM ET

JAKARTA (AFP) -Separated by a road and a viscous finger of black, garbage-choked water, the stilt-house slum of Muara Baru and the BMW car dealership that faces it appear as if from different worlds.

But on December 6, 2025, these two extremes of the Indonesian capital will have something in common as a World Bank study shows that unless action is taken, they and much of the coastal city of 12 million will be submerged by seawater.

Experts have pinpointed that date as the next peak of an 18.6-year astronomical cycle, when sea levels will rise enough to engulf much of Indonesia’s low-lying capital.

Climate change is causing sea levels to rise, but the study’s authors say the main problem is that Jakarta is sinking under the weight of out-of-control development.

“The major reason for this is not climate change or whatever, but just the sinking of Jakarta,” says Jan Jaap Brinkman, an engineer with Dutch consultancy Delft Hydraulics who worked with the World Bank on the study.

“We can exactly predict to what extent the sea will come into Jakarta

” By 2025, estimates from the Intergovernmental Panel on Climate Change show, sea levels will have risen by only about five centimetres (two inches).

But Brinkman says Jakarta, which spans a flat plain between mountains and coast, will be between 40 and 60 centimetres lower than it is now.

The study shows that without better defences, in 2025 the sea will reach the presidential palace around five kilometres (three miles) inland as well as completely inundating Jakarta’s historic old city to the north.

December 6 will be the highest point of the tidal cycle, but Brinkman warns there are likely to be plenty of floods before then.

Brinkman blames the swelling city’s over-development, which is compressing the land it is built on.

The problem has been exacerbated by factories, hotels and wealthy residents drilling deep water bores to bypass the city’s shambolic water grid, sucking out the groundwater and causing further subsidence.

The World Bank has called for a halt to deep groundwater extraction, and the city administration has raised the price of groundwater but so far there has been little progress.

“If you do nothing about the groundwater problem, parts of Jakarta will sink five metres (by 2025),” Brinkman says.

A glimpse of the future can be seen in the shacks of Muara Baru, where the city’s north meets the sea, and where flood levels late last year reached up to two metres.

The few trees that shaded this fishing slum were underwater for so long they are now dead and bare.

Muara Baru is bordered by just the kind of high-rise towers, luxury homes and mega-malls that are pushing the area into the sea.

There is little water to drink in the slum itself — around 40 percent of Jakarta’s population is not connected to the water grid, said Achmad Lanti, the city’s water regulator.

Jakarta’s water was privatised in 1997 in the hope of improving services. But Lanti said the two foreign operators brought in to run it had failed to live up to pledges to bring water to 75 percent of the population by 2007.

The shortage leaves many Jakartans with limited options: buy the water at a marked-up price, dig for it, or steal it.

Around half of the water from Jakarta’s pipes disappears through a combination of leaks and theft, Lanti said.

“Sometimes (those who steal) are only individuals, sometimes they form a kind of organised crime, what I call a water mafia,” he said.

In Muara Baru, Sayong, a 65-year-old grandmother, and Aris, who says he is in his 70s, skid down hill holding a push-cart filled with jugs of fresh water.

Each day Sayong fills three carts full of water from a pump and sells it on to other residents. After using the water she needs and selling the rest, Sayong, who lives with two adult children and two grandchildren, said she earns a maximum of 20,000 rupiah (2.20 dollars) a day.

Her tiny income means she has no option but to stay in Muara Baru, where the floods are a constant threat.

“It’s serious, I can’t sleep because I’m always afraid that there will be flooding from the sea,” she says.

The waste-filled canal that runs up to the slum’s edge shows the effect of the city’s chaotic development.

Massive buildings have taken over natural drainage sites, while human waste and rubbish clog waterways, causing freshwater floods that surge up from the ground during the rainy season.

The drainage system built by the Dutch who once ruled Jakarta is unable to cope with the city’s rapid growth, said Hongjoo Hahm, the top infrastructure specialist at the World Bank in Indonesia.

“Every year we get floods,” he says. “The scale of the floods (the Dutch) were talking about every 25 years are happening every year.”

Masuk surat lucu di email gw… terkait akan Global Warming… Very Informative & Funny…

Semoga dengan menerapkan mindset spt gambar dibawah ini, bisa membantu memberikan solusi pemanasan global..

———————————————————————–

All,
Hopefully this mind map could give us inspiration regarding on Global Warming issue, thanks.


Best Regards,

Royn

waduh… Jakarta masuk daftar kota yang terancam pemanasan global nih..
barusan baca beritanya di tempo interaktif.com .
gw copy artikelnya biar bisa dibaca rame-rame. -FS-

——————————————————–

Jakarta Terancam Pemanasan Global
Rabu, 28 Maret 2007 | 09:18 WIB
TEMPO, LONDON

Lebih dari dua per tiga kota-kota besar di dunia akan terkena dampak pemanasan global. Salah satunya adalah Jakarta. Inilah hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Environment and Urbanization hari ini.

Jakarta adalah satu dari 180 kota di dunia yang 70 persen wilayahnya berada di kawasan pantai berelevasi rendah yang terancam oleh naiknya permukaan laut akibat pemanasan global itu. Kota lainnya antara lain Tokyo, New York, Mumbai di India, Shanghai, dan Dhaka.

Penelitian itu memang tak menyebutkan kapan permukaan laut akan naik atau membanjiri kota-kota pantai tersebut. Namun disebutkan bahwa solusi untuk memecahkan persoalan itu amatlah mahal karena harus merelokasi banyak orang dan menciptakan struktur bangunan yang bisa melindungi diri dari bencana.

“Migrasi dari zona yang berbahaya itu sangat diperlukan namun menyita biaya dan sulit dilakukan, jadi permukiman di kawasan pantai sebaiknya dimodifikasi untuk melindungi penduduknya,” kata Gordon McGranahan dari International Institut Lingkungan dan Pembangunan Internasional di London. Dia adalah penulis hasil penelitian tersebut.

Sebelumnya Panel Antarpemerintahan untuk Perubahan Iklim telah menyebutkan bahwa kawasan pantai akan terkena dampak paling buruk dari pemanasan global. Laporan mereka menyebutkan pada 2080 lebih dari 100 juta manusia akan terkena bencana banjir tiap tahun.

Bahkan pada 2090 mereka meramalkan terjadinya air bah raksasa di Amerika Utara. “Bisa berulang tiga sampai empat tahun sekali,” demikian laporan itu.

Pada Februari Panel itu telah memperingatkan bahwa permukaan air laut meningkat tujuh -23 inci di akhir abad yang lalu dan mengancam kawasan pantai dan menimbulkan badai dan angin topan. Asia adalah kawasan paling berbahaya. Lima negara yang terancam adalah Cina, India, Bangladesh, Vietnam, dan Indonesia.

AP | AFP | DEDDY SINAGA

——————————————————–

Perlu diingat.. bahwa semua kemungkinan ini bisa terjadi adalah karena ulah manusia. ekspoitasi alam untuk kebutuhan industri telah memberikan dampak yang luar biasa negatif bagi keselamatan bumi ini. jadi wahai kawan sekalian, marilah kita lebih menjaga bumi tempat kita berpijak ini.. tidakkah kita mendengar tangisan ibu pertiwi.. tanah, air, dan udara yang kita nikmati sehari-hari dirusak dan dikotori oleh ulah tangan manusia. tidakkah kita merasa bahwa alam sudah murka terhadap kita? ingatlah kawan, setinggi-tingginya kita, tetaplah kita hanyalah seorang manusia. kita hanyalah makhluk yang sangat kecil dibandingkan alam semesta yang luas ini. Dari kecil gue diajarin bahwa Tuhan menjadikan alam ini lebih dahulu daripada manusia. Kalo dari silsilah, manusia adalah anak paling bontot yang dihidupin sama Tuhan, bahkan hewan-hewan aja dihidupin duluan. Kiranya kita sebagai anak bontot lebih banyak menghormati dan menyayangi yang lebih tua.
mungkin bumi ini sudah tidak mungkin dikembalikan seperti semula, dengan mengetahui fakta ini gw cuman bisa berharap semoga manusia cepat mengerti dan memahami jeritan alam ini.
Pesan yang pengen gw sampaikan… marilah kita jaga kelestarian alam kita ini, sayangi semua makhluk yang hidup dan bernyawa… gw mungkin ga punya kapasitas yang besar untuk menyampaikan hal ini kepada semua manusia… gw bukan presiden, bukan penguasa, mentri lingkungan hidup,.. tapi gw pengen.. karena gw hanya manusia…,berita inipun menjadi tamparan buat gw sendiri…
STOP WAR…PEACE FOR THE EARTH -FS-